Hahaha, hari ke-3 ini oke banget di kantor. Jenderal-jenderalnya nggak ada, nongol bentar doang di kantor, jadi saya nyantaaaaiiii ngobrol-ngobrol sama mbak-mbak yang lain. Hihihi. Tapi seperti biasa, selalu ada yang bisa dipelajari setiap hari. Kali ini, saya menyadari bahwa ternyata, budaya yang berbeda justru bermula dari lingkup kecil keluarga.
Sepanjang hidup saya, tak hanya sekali-dua kali saya menginap di rumah teman selama berhari-hari. Tapi yang paling membekas ya dua keluarga terakhir yang rumahnya saya singgahi ini. Yang satu di Jakarta, yang satu di Yogyakarta. Yang di Jakarta, saya sudah kenal sejak 2008. Mereka dengan murah hati mau 'menampung' saya yang saat itu tidak mudik ke Surabaya. Jadi selama liburan kuliah seminggu, saya menjadi 'penghuni' di rumah mereka. Sedangkan yang di Yogyakarta ini, ya karena saya tak ada tempat tinggal lain untuk singgah kalau tidak di sini. Hahaha.
Tapi ya, dari kedua keluarga itu, saya baru sadar, ada perbedaan yang cukup mencolok dari segi budaya dan kebiasaan yang berlaku. Bahkan dengan keluarga saya sekalipun, hal itu cukup terasa. Misalkan saja perihal menawari tamu (yang di sini kasusnya saya sebagai teman si anak) makanan atau minuman. Ada para orang tua yang sangat ramah memperlakukan saya seperti anak sendiri, sehingga saya pun jadi jatuh hati dan tak sungkan lagi untuk melakukan kegiatan-kegiatan kecil di rumah mereka. Tapi berbeda dengan keluarga lain, yang cenderung mengumbar si tamu, bahkan si anak itu sendiri. Saya mau tak mau jadi membandingkan kedua sikap para orang tua itu dengan perlakuan yang diberikan oleh ibu saya terhadap tamu anak-anaknya. Entah ya, sejak dulu, ibu saya justru sangat mudah mengambil hati teman-teman anaknya. Beliau bisa membuat teman-teman saya dan adik saya betah di rumah kami, bahkan ketagihan datang terutama untuk mencicipi penganan buatan ibu saya. Contohnya saja ketika ada teman saya yang datang ke rumah, tanpa saya memintakan suguhan, ibu saya pasti dengan perhatian penuh menghidangkan cemilan-cemilan dan minuman yang hampir nonstop. Malah kadang justru saya sendiri yang protes karena hal itu terkesan berlebihan. Tapi ya itulah... Begitu saya mendapatkan perlakuan berbeda di rumah keluarga lain, saya baru menyadari bahwa apa yang dilakukan ibu saya itu justru sangat tepat.
Siapapun orang yang bertamu, kalau dia tahu tata krama, pasti memiliki rasa sungkan untuk berlaku seenaknya di rumah sebuah keluarga. Takut dianggap lancang. Mestinya ada salah satu anggota keluarga itu (terutama si teman yang bersangkutan) yang menjadi LO untuk 'membawa' tamu itu mengakrabkan diri pada si keluarga. Percaya atau tidak, satu sambutan singkat semacam "Mbak, itu kulkas. Ada air dingin di dalam. Di atas meja itu, sirup. Kamu nggak Tante ladeni, karena anggap saja ini rumah sendiri. Jadi kalau mau minum, ambil sendiri ya. Kalau mau nonton tivi, itu remotenya di sana. Udah, silakan kalau mau ngapa-ngapain ya, nggak usah sungkan-sungkan segala." itu LUAR BIASA efeknya...
Atau kalau memang dia baru pertama bertamu ke rumah itu, sambutan hangat dari sang ibu yang misalnya "Mbak, ayo, kamu makan dulu. Biarin aja si X, dia makannya suka telat. Kamu duluan aja makannya. Nih udah ibu siapin buat kamu, ayo duduk sini." juga sangat, sangat berharga buat tamu yang jadi merasa sangat diterima...
So guys, mungkin sudah waktunya kita menyadari betapa konflik perpecahan budaya itu pun bisa muncul nggak hanya dari bangsa ke bangsa, tapi dari keluarga ke keluarga... Be well to your guest.
0 komentar:
Poskan Komentar