Alhamdulillah udah dapet kosaaaan! X'D
Tempatnya strategis, di seberang terminal Condong Catur. Namanya Mulyokost. Harganya 400rb/bulan. Agak masuk gang kecil, tapi nggak masalah, soalnya itu lokasi amat sangat strategis! Banyak makanan, transportasi lancar, dekat mini market! Fasilitasnya juga oke, kayak kosan di Depok. Yeeeey! Jadi besok atau lusa sudah bisa meninggalkan rumah ini!
Agak sayang juga tiba-tiba, karena ternyata saya malah sudah mulai terbiasa dengan rumah ini... *ironi yang biasa*
Hari ini cukup menaikkan mood saya, karena ada teman kantor yang sangat berbaik hati mau mengantar-jemput saya untuk berangkat bersama-sama ke kantor. Bahkan, tadi saja dia yang mengantarkan saya survei lokasi kosan itu. Agak sungkan juga, itu teman baru, belum terlalu akrab, tapi sudah saya 'siksa; begitu..:( Untunglah dia justru menawarkan diri tanpa banyak bicara untuk membantu saya mendatangi tempat-tempat yang saya tuju itu. Alhamdulillah, tak perlu lama, hanya 2 rumah saja yang kami datangi, dan saya langsung jatuh hati pada Mulyokost itu :')
Sudah begitu, jatah makan siang kami tadi, sate/tongseng kambing! Hahaha, kaget juga. Biasanya para karyawati yang memasak untuk dimakan bersama di kantor, tapi hari ini kami semua justru pergi ke satu tempat yang sepertinya cukup terkenal, dilihat dari banyaknya pengunjung yang datang ke sana. Namanya "Sate Kambing Pak Syamsuri", letaknya di Maguwoharjo, belakang STIPARY itu. Seru sih, jadi makan rame-rame, dan... gratis pula!:))
Yah, kabar baik berikutnya adalah, saya sudah dapat kabar pasti kapan sahabat saya yang satunya lagi datang dari Semarang! Uwoooo, ramai bertiga kami nantiiii! X'D
Patut digarisbawahi juga, selama di Jogja ini, saya benar-benar menyadari betapa ramahnya penduduk lokal sini :'D
Ih, can't wait to write the new post from the new place!
P.S. : I'm waiting for the weekend too! Wohooo!
Kata Pun Berbicara
Senin, 27 Juni 2011
Minggu, 26 Juni 2011
Hari ke-4, Minggu Mager -____-"
Kapan coba hari Minggu tuh nggak bikin mager? Hah.
Hari ini tadi rencananya mau full nyari kosan. Apalah daya, gara-gara kemaren ngobrol sama temen sampe jam setengah 4 pagi, alhasil saya juga bangunnya telat pol. Makin siang makin mager mau ke mana-mana. Apalagi kebayang mesti jalan kaki berkilo-kilo meter lagi buat survei lokasi. NOOOOOO!
Jadilah saya sibuk menghubungi teman-teman lain yang juga sudah lebih lama tinggal di Jogja, tentang akses transportasi apapun yang sekiranya dapat membebaskan saya dari kewajiban jalan kaki. Untungnya, ada satu teman SMA dulu yang kuliah di sini, dan bawa motor! Dengan harapan tinggi saya coba merayunya mengantarkan saya berkeliling, dan alhamdulillah dia mauuuu! X'D
Jam setengah tiga kami berangkat dari rumah teman saya ini, dan dari situlah perjuangan dimulai...
Alamak, pencarian ini jauh lebih susah daripada pencarian Arjuna akan cinta! T______T Dari 10-an lebih tempat yang kami datangi, saya tak juga menemukan tempat yang cocok. Huhuhuhu. Mana saya diburu waktu gara-gara teman saya dan keluarganya berencana ke Semarang akhir minggu ini... Aduh, puyeng deh. Si Tante juga masih begitu banget. Haduh haduuuh! Saya berputar-putar selama 3 jam dan nyaris menyusuri setengah kota Yogyakarta untuk mencari kosan ini...
I REALLY NEED TO GET OUT OF THIS HOUSE!X'((
Hari ini tadi rencananya mau full nyari kosan. Apalah daya, gara-gara kemaren ngobrol sama temen sampe jam setengah 4 pagi, alhasil saya juga bangunnya telat pol. Makin siang makin mager mau ke mana-mana. Apalagi kebayang mesti jalan kaki berkilo-kilo meter lagi buat survei lokasi. NOOOOOO!
Jadilah saya sibuk menghubungi teman-teman lain yang juga sudah lebih lama tinggal di Jogja, tentang akses transportasi apapun yang sekiranya dapat membebaskan saya dari kewajiban jalan kaki. Untungnya, ada satu teman SMA dulu yang kuliah di sini, dan bawa motor! Dengan harapan tinggi saya coba merayunya mengantarkan saya berkeliling, dan alhamdulillah dia mauuuu! X'D
Jam setengah tiga kami berangkat dari rumah teman saya ini, dan dari situlah perjuangan dimulai...
Alamak, pencarian ini jauh lebih susah daripada pencarian Arjuna akan cinta! T______T Dari 10-an lebih tempat yang kami datangi, saya tak juga menemukan tempat yang cocok. Huhuhuhu. Mana saya diburu waktu gara-gara teman saya dan keluarganya berencana ke Semarang akhir minggu ini... Aduh, puyeng deh. Si Tante juga masih begitu banget. Haduh haduuuh! Saya berputar-putar selama 3 jam dan nyaris menyusuri setengah kota Yogyakarta untuk mencari kosan ini...
I REALLY NEED TO GET OUT OF THIS HOUSE!X'((
Sabtu, 25 Juni 2011
Hari ke-3, "Multikultur"
Hahaha, hari ke-3 ini oke banget di kantor. Jenderal-jenderalnya nggak ada, nongol bentar doang di kantor, jadi saya nyantaaaaiiii ngobrol-ngobrol sama mbak-mbak yang lain. Hihihi. Tapi seperti biasa, selalu ada yang bisa dipelajari setiap hari. Kali ini, saya menyadari bahwa ternyata, budaya yang berbeda justru bermula dari lingkup kecil keluarga.
Sepanjang hidup saya, tak hanya sekali-dua kali saya menginap di rumah teman selama berhari-hari. Tapi yang paling membekas ya dua keluarga terakhir yang rumahnya saya singgahi ini. Yang satu di Jakarta, yang satu di Yogyakarta. Yang di Jakarta, saya sudah kenal sejak 2008. Mereka dengan murah hati mau 'menampung' saya yang saat itu tidak mudik ke Surabaya. Jadi selama liburan kuliah seminggu, saya menjadi 'penghuni' di rumah mereka. Sedangkan yang di Yogyakarta ini, ya karena saya tak ada tempat tinggal lain untuk singgah kalau tidak di sini. Hahaha.
Tapi ya, dari kedua keluarga itu, saya baru sadar, ada perbedaan yang cukup mencolok dari segi budaya dan kebiasaan yang berlaku. Bahkan dengan keluarga saya sekalipun, hal itu cukup terasa. Misalkan saja perihal menawari tamu (yang di sini kasusnya saya sebagai teman si anak) makanan atau minuman. Ada para orang tua yang sangat ramah memperlakukan saya seperti anak sendiri, sehingga saya pun jadi jatuh hati dan tak sungkan lagi untuk melakukan kegiatan-kegiatan kecil di rumah mereka. Tapi berbeda dengan keluarga lain, yang cenderung mengumbar si tamu, bahkan si anak itu sendiri. Saya mau tak mau jadi membandingkan kedua sikap para orang tua itu dengan perlakuan yang diberikan oleh ibu saya terhadap tamu anak-anaknya. Entah ya, sejak dulu, ibu saya justru sangat mudah mengambil hati teman-teman anaknya. Beliau bisa membuat teman-teman saya dan adik saya betah di rumah kami, bahkan ketagihan datang terutama untuk mencicipi penganan buatan ibu saya. Contohnya saja ketika ada teman saya yang datang ke rumah, tanpa saya memintakan suguhan, ibu saya pasti dengan perhatian penuh menghidangkan cemilan-cemilan dan minuman yang hampir nonstop. Malah kadang justru saya sendiri yang protes karena hal itu terkesan berlebihan. Tapi ya itulah... Begitu saya mendapatkan perlakuan berbeda di rumah keluarga lain, saya baru menyadari bahwa apa yang dilakukan ibu saya itu justru sangat tepat.
Siapapun orang yang bertamu, kalau dia tahu tata krama, pasti memiliki rasa sungkan untuk berlaku seenaknya di rumah sebuah keluarga. Takut dianggap lancang. Mestinya ada salah satu anggota keluarga itu (terutama si teman yang bersangkutan) yang menjadi LO untuk 'membawa' tamu itu mengakrabkan diri pada si keluarga. Percaya atau tidak, satu sambutan singkat semacam "Mbak, itu kulkas. Ada air dingin di dalam. Di atas meja itu, sirup. Kamu nggak Tante ladeni, karena anggap saja ini rumah sendiri. Jadi kalau mau minum, ambil sendiri ya. Kalau mau nonton tivi, itu remotenya di sana. Udah, silakan kalau mau ngapa-ngapain ya, nggak usah sungkan-sungkan segala." itu LUAR BIASA efeknya...
Atau kalau memang dia baru pertama bertamu ke rumah itu, sambutan hangat dari sang ibu yang misalnya "Mbak, ayo, kamu makan dulu. Biarin aja si X, dia makannya suka telat. Kamu duluan aja makannya. Nih udah ibu siapin buat kamu, ayo duduk sini." juga sangat, sangat berharga buat tamu yang jadi merasa sangat diterima...
So guys, mungkin sudah waktunya kita menyadari betapa konflik perpecahan budaya itu pun bisa muncul nggak hanya dari bangsa ke bangsa, tapi dari keluarga ke keluarga... Be well to your guest.
Sepanjang hidup saya, tak hanya sekali-dua kali saya menginap di rumah teman selama berhari-hari. Tapi yang paling membekas ya dua keluarga terakhir yang rumahnya saya singgahi ini. Yang satu di Jakarta, yang satu di Yogyakarta. Yang di Jakarta, saya sudah kenal sejak 2008. Mereka dengan murah hati mau 'menampung' saya yang saat itu tidak mudik ke Surabaya. Jadi selama liburan kuliah seminggu, saya menjadi 'penghuni' di rumah mereka. Sedangkan yang di Yogyakarta ini, ya karena saya tak ada tempat tinggal lain untuk singgah kalau tidak di sini. Hahaha.
Tapi ya, dari kedua keluarga itu, saya baru sadar, ada perbedaan yang cukup mencolok dari segi budaya dan kebiasaan yang berlaku. Bahkan dengan keluarga saya sekalipun, hal itu cukup terasa. Misalkan saja perihal menawari tamu (yang di sini kasusnya saya sebagai teman si anak) makanan atau minuman. Ada para orang tua yang sangat ramah memperlakukan saya seperti anak sendiri, sehingga saya pun jadi jatuh hati dan tak sungkan lagi untuk melakukan kegiatan-kegiatan kecil di rumah mereka. Tapi berbeda dengan keluarga lain, yang cenderung mengumbar si tamu, bahkan si anak itu sendiri. Saya mau tak mau jadi membandingkan kedua sikap para orang tua itu dengan perlakuan yang diberikan oleh ibu saya terhadap tamu anak-anaknya. Entah ya, sejak dulu, ibu saya justru sangat mudah mengambil hati teman-teman anaknya. Beliau bisa membuat teman-teman saya dan adik saya betah di rumah kami, bahkan ketagihan datang terutama untuk mencicipi penganan buatan ibu saya. Contohnya saja ketika ada teman saya yang datang ke rumah, tanpa saya memintakan suguhan, ibu saya pasti dengan perhatian penuh menghidangkan cemilan-cemilan dan minuman yang hampir nonstop. Malah kadang justru saya sendiri yang protes karena hal itu terkesan berlebihan. Tapi ya itulah... Begitu saya mendapatkan perlakuan berbeda di rumah keluarga lain, saya baru menyadari bahwa apa yang dilakukan ibu saya itu justru sangat tepat.
Siapapun orang yang bertamu, kalau dia tahu tata krama, pasti memiliki rasa sungkan untuk berlaku seenaknya di rumah sebuah keluarga. Takut dianggap lancang. Mestinya ada salah satu anggota keluarga itu (terutama si teman yang bersangkutan) yang menjadi LO untuk 'membawa' tamu itu mengakrabkan diri pada si keluarga. Percaya atau tidak, satu sambutan singkat semacam "Mbak, itu kulkas. Ada air dingin di dalam. Di atas meja itu, sirup. Kamu nggak Tante ladeni, karena anggap saja ini rumah sendiri. Jadi kalau mau minum, ambil sendiri ya. Kalau mau nonton tivi, itu remotenya di sana. Udah, silakan kalau mau ngapa-ngapain ya, nggak usah sungkan-sungkan segala." itu LUAR BIASA efeknya...
Atau kalau memang dia baru pertama bertamu ke rumah itu, sambutan hangat dari sang ibu yang misalnya "Mbak, ayo, kamu makan dulu. Biarin aja si X, dia makannya suka telat. Kamu duluan aja makannya. Nih udah ibu siapin buat kamu, ayo duduk sini." juga sangat, sangat berharga buat tamu yang jadi merasa sangat diterima...
So guys, mungkin sudah waktunya kita menyadari betapa konflik perpecahan budaya itu pun bisa muncul nggak hanya dari bangsa ke bangsa, tapi dari keluarga ke keluarga... Be well to your guest.
Jumat, 24 Juni 2011
Hari ke-2, Mata Angin
Ini hari kedua saya di sini. Berhasil 'melarikan diri' dari si S! Yey! Jadi denah kantor tuh saya bagi jadi 3: sayap kiri, ruang tengah, sayap kanan. Nah, biasanya diskusi berlangsung di meja besar yang ada di meja tengah. Sementara sayap kiri merupakan bilik-bilik untuk editorial, administrasi, dll, dan sayap kanan adalah perpustakaan. Saya datang terlambat, karena kelewatan halte yang saya tuju, jadi begitu datang, orang-orang sudah ramai. Untungnya si manajer utama, lagi ngider di sayap kanan, ngobrol sama para mbak. Melihat saya, dia langsung menyapa dengan ramah. Yaaa, lumayan buat permulaan hari. Setelah meletakkan tas, saya bergegas 'kabur' sambil menenteng laptop ke sayap kiri. Langsung sibuk ngetik. Untungnya nggak ada juga yang cukup 'senggang' untuk menengok saya kecuali si Mas Wawan. Jadi yaaaaa, seharian ini saya terselamatkan dari si S! Terus saya juga sudah menyiapkan skenario jawaban di otak sih, tentang keterlibatan di 'sekolah'. Pokoknya saya nggak mau ikutan. Asli.
Oh terus perkara yang saya tarik kemudian adalah: MATA ANGIN! Astaga orang-orang Jogja iniiiii! Mungkin budayanya memang beda dengan saya yang besar di Surabaya dan merantau di Jakarta ya, di sini ini, apa-apa dikatakan dengan mata angin gitu lho. Misal saya nemu perempatan terus bingung mau ke mana, mereka akan dengan lugas berkata "Ke Utara aja mbak, jalan sampai nemu indomaret, terus belok ke timur." atau "Ada perempatan yang ada tiang drumnya, jalan aja ke barat mentok." OH MY GOD. Mereka bisa ringan saja begitu lhoooo menyebut semua arah itu! Padahal selama ini saya tuh kalo nemu perempatan dan ngasih panduan jalan ke orang, yang cuma bilang "perempatan belok kanan/kiri/terus". Udah! Astagaaaaaaa, bener-bener deh. Lama-lama saya beli kompas nih di sini! -_____-
Tolong terus doakan agar saya terselamatkan dari si S ya!
Oh terus perkara yang saya tarik kemudian adalah: MATA ANGIN! Astaga orang-orang Jogja iniiiii! Mungkin budayanya memang beda dengan saya yang besar di Surabaya dan merantau di Jakarta ya, di sini ini, apa-apa dikatakan dengan mata angin gitu lho. Misal saya nemu perempatan terus bingung mau ke mana, mereka akan dengan lugas berkata "Ke Utara aja mbak, jalan sampai nemu indomaret, terus belok ke timur." atau "Ada perempatan yang ada tiang drumnya, jalan aja ke barat mentok." OH MY GOD. Mereka bisa ringan saja begitu lhoooo menyebut semua arah itu! Padahal selama ini saya tuh kalo nemu perempatan dan ngasih panduan jalan ke orang, yang cuma bilang "perempatan belok kanan/kiri/terus". Udah! Astagaaaaaaa, bener-bener deh. Lama-lama saya beli kompas nih di sini! -_____-
Tolong terus doakan agar saya terselamatkan dari si S ya!
Kamis, 23 Juni 2011
Hari 1, Permulaan
Setelah 14 jam yang melelahkan selama perjalanan dengan bis, saya tiba di kota ini. Yogyakarta. Jam 6 kurang sekian menit, saya turun di perempatan Kentungan, sesuai arahan dari teman saya. Masya Allah, dinginnyaaaaa! (FYI, I can't stand on cold weather, especially after hours being inside the cold bus) Dengan menahan gigilan tubuh, saya duduk di tikungan, berusaha menghubungi si teman. Karena satu dan lain hal, dia batal menjemput saya. Kebetulan, ada taksi nganggur tepat di depan mata, jadi saya pun bergegas membangunkan si sopir yang tertidur di dalam untuk mengantar saya ke alamat rumah teman saya.
Sempat agak tersesat, yang saya cukup yakin disengaja oleh si sopir, tapi akhirnya saya sampai dengan selamat. Harga yang diminta oleh taksi dengan nama "Ctrs" (cari aja taksi yang punya huruf-huruf ini pada namanya di Jogja) ternyata justru tidak sesuai argo. Si Sopir minta 5rb lebih banyak. Secara saya sudah kelelahan, niatan untuk melawannya pun tak ada, jadi saya menuruti saja permintaannya. Begitu turun, saya mengobrol sebentar dengan ibu teman saya tentang perjalanan barusan, kemudian pamit mandi. Air hangat dari shower memang penyelamat betul di pagi yang super melelahkan dan menggigit macam itu!
Teh hangat yang disediakan tante juga cukup membantu mengikis rasa dingin dari bagian dalam tubuh saya. Haduhhh, rasanya legaaaaa. Saya pun pamit tidur sejenak, sekedar mengembalikan sedikit stamina untuk memulai hari pertama kerja magang di salah satu penerbit di kota ini.
3 jam kemudian saya bangun, yang ternyata sudah melebihi waktu yang saya tergetkan :p, dan bersiap-siap berangkat. Ternyata cukup mudah mencari gedung penerbit tersebut. Meskipun letaknya cukup terpencil (karena terletak di pinggiran Jogja, bukan di tengah kotanya), tempatnya cukup mencolok juga, karena jadi satu dengan salah satu sekolah tinggi. Oke, saya pun masuk ke dalam dengan ragu-ragu.
Hap, hap, hap, naik tangga sampai lantai 3 (yang percayalah nggak ada apa-apanya dibanding lantai gedung IX FIB, kecuali hawa angkernya yang JUARA!-____-), ternyata betul itu kantor redaksinya. Setelah bertemu dengan manajer yang saya hubungi tempo hari, saya pun disambut sebagai anggota baru. Nah, di sini 'neraka' dimulai...
Siapa menyangka bahwa mereka ini LUAR BIASA kritisnya??? Terutama satu yang paling mencolok, berinisial S. Astaga... Sempat serem juga, takutnya mereka yang sangat ideologis ini justru bisa mendoktrin saya yang tidak-tidak. Cukup baik sih, karena mereka ini pembela proletar, tapi kok saya menangkap tindak provokatif yang tersirat ya...? Duh... Apalagi saya langsung dilibatkan dalam rapat evaluasi 'kelompok belajar' mereka ke Makassar beberapa waktu lalu. Saat mendengar si S, yang merupakan penanggung jawab 'sekolah', saya merasa sangat tidak nyaman dengan opininya yang menggebu-gebu tentang minat peserta kelompok diskusi mereka dan dari sana juga saya menangkap dengan kuat bahwa dialah yang paling provokatif di antara yang lain. Si S ini tipe aktivis BEM telat umur (kalau istilah kasar saya -____-)
Alhasil, hampir 2 jam saya mendengar laporan-laporan mereka (atau lebih tepatnya laporan tunggal si S), makin kuatlah dugaan saya bahwa mereka ini memang komunitas ideologis. Aduh mak... What the hell am I doing heeeere???? T______T
Untungnya, jam makan siang tiba, dan saya pun terselamatkan ketika satu-persatu dari mereka bubar untuk mengambil makan. Tapi saya keceplosan bilang kalau saya tidak diwajibkan oleh kampus untuk magang... Dan muka si S sangatlah bahagia mendengarnya dan ia tampaknya makin berniat memberdayakan saya sepenuhnya dalam kegiatan 'sekolahnya' T------T Begitu si S pergi, saya juga cepat-cepat kabur ke bagian perpustakaan, karena para pegawai perempuan ada di bagian sana. Taktik itu cukup berhasil. Saya pun ngobrol beberapa saat dengan mereka yang lebih 'ramah', dan berhasil menenangkan diri sejenak. Barulah saya menagih tugas ke Koordinator Editor saya, Mas Wawan. Alhamdulillah dia langsung memberi saya tugas yang dengan senang hati saya terima. Itu kan artinya saya bisa mangkir dari pertanyaan menjurus dari si S dan penanggung jawab 'sekolah' lainnya... Ihiks.
Untungnya, begitu mendekati jam pulang, pekerjaan saya cukup signifikan. Dasarnya saya ini suka gatel dengan segala penulisan tak tepat, jadi banyak juga kesalahan yang saya koreksi dalam naskah itu. Si S menghampiri saya pada saat itu dan begitu melihat pekerjaan saya, tampaknya ia cukup terkesima dan jadi terkesan dengan hasilnya. Yah.. Mungkin dengan begitu saya bisa dibebaskan dari tugas 'idealis-idealis'.
Tambahan lagi, pihak utama yang jadi alasan dari semua tindakan saya, malah kesannya setengah-setengah menanggapi kedatangan saya. Duh. Whateverlah.
Pengen kabur aja rasanya. Dua bulan. How naive I am to take such a decision... ANYONE TAKE ME FROM HEEEERE! X'(
Sempat agak tersesat, yang saya cukup yakin disengaja oleh si sopir, tapi akhirnya saya sampai dengan selamat. Harga yang diminta oleh taksi dengan nama "Ctrs" (cari aja taksi yang punya huruf-huruf ini pada namanya di Jogja) ternyata justru tidak sesuai argo. Si Sopir minta 5rb lebih banyak. Secara saya sudah kelelahan, niatan untuk melawannya pun tak ada, jadi saya menuruti saja permintaannya. Begitu turun, saya mengobrol sebentar dengan ibu teman saya tentang perjalanan barusan, kemudian pamit mandi. Air hangat dari shower memang penyelamat betul di pagi yang super melelahkan dan menggigit macam itu!
Teh hangat yang disediakan tante juga cukup membantu mengikis rasa dingin dari bagian dalam tubuh saya. Haduhhh, rasanya legaaaaa. Saya pun pamit tidur sejenak, sekedar mengembalikan sedikit stamina untuk memulai hari pertama kerja magang di salah satu penerbit di kota ini.
3 jam kemudian saya bangun, yang ternyata sudah melebihi waktu yang saya tergetkan :p, dan bersiap-siap berangkat. Ternyata cukup mudah mencari gedung penerbit tersebut. Meskipun letaknya cukup terpencil (karena terletak di pinggiran Jogja, bukan di tengah kotanya), tempatnya cukup mencolok juga, karena jadi satu dengan salah satu sekolah tinggi. Oke, saya pun masuk ke dalam dengan ragu-ragu.
Hap, hap, hap, naik tangga sampai lantai 3 (yang percayalah nggak ada apa-apanya dibanding lantai gedung IX FIB, kecuali hawa angkernya yang JUARA!-____-), ternyata betul itu kantor redaksinya. Setelah bertemu dengan manajer yang saya hubungi tempo hari, saya pun disambut sebagai anggota baru. Nah, di sini 'neraka' dimulai...
Siapa menyangka bahwa mereka ini LUAR BIASA kritisnya??? Terutama satu yang paling mencolok, berinisial S. Astaga... Sempat serem juga, takutnya mereka yang sangat ideologis ini justru bisa mendoktrin saya yang tidak-tidak. Cukup baik sih, karena mereka ini pembela proletar, tapi kok saya menangkap tindak provokatif yang tersirat ya...? Duh... Apalagi saya langsung dilibatkan dalam rapat evaluasi 'kelompok belajar' mereka ke Makassar beberapa waktu lalu. Saat mendengar si S, yang merupakan penanggung jawab 'sekolah', saya merasa sangat tidak nyaman dengan opininya yang menggebu-gebu tentang minat peserta kelompok diskusi mereka dan dari sana juga saya menangkap dengan kuat bahwa dialah yang paling provokatif di antara yang lain. Si S ini tipe aktivis BEM telat umur (kalau istilah kasar saya -____-)
Alhasil, hampir 2 jam saya mendengar laporan-laporan mereka (atau lebih tepatnya laporan tunggal si S), makin kuatlah dugaan saya bahwa mereka ini memang komunitas ideologis. Aduh mak... What the hell am I doing heeeere???? T______T
Untungnya, jam makan siang tiba, dan saya pun terselamatkan ketika satu-persatu dari mereka bubar untuk mengambil makan. Tapi saya keceplosan bilang kalau saya tidak diwajibkan oleh kampus untuk magang... Dan muka si S sangatlah bahagia mendengarnya dan ia tampaknya makin berniat memberdayakan saya sepenuhnya dalam kegiatan 'sekolahnya' T------T Begitu si S pergi, saya juga cepat-cepat kabur ke bagian perpustakaan, karena para pegawai perempuan ada di bagian sana. Taktik itu cukup berhasil. Saya pun ngobrol beberapa saat dengan mereka yang lebih 'ramah', dan berhasil menenangkan diri sejenak. Barulah saya menagih tugas ke Koordinator Editor saya, Mas Wawan. Alhamdulillah dia langsung memberi saya tugas yang dengan senang hati saya terima. Itu kan artinya saya bisa mangkir dari pertanyaan menjurus dari si S dan penanggung jawab 'sekolah' lainnya... Ihiks.
Untungnya, begitu mendekati jam pulang, pekerjaan saya cukup signifikan. Dasarnya saya ini suka gatel dengan segala penulisan tak tepat, jadi banyak juga kesalahan yang saya koreksi dalam naskah itu. Si S menghampiri saya pada saat itu dan begitu melihat pekerjaan saya, tampaknya ia cukup terkesima dan jadi terkesan dengan hasilnya. Yah.. Mungkin dengan begitu saya bisa dibebaskan dari tugas 'idealis-idealis'.
Tambahan lagi, pihak utama yang jadi alasan dari semua tindakan saya, malah kesannya setengah-setengah menanggapi kedatangan saya. Duh. Whateverlah.
Pengen kabur aja rasanya. Dua bulan. How naive I am to take such a decision... ANYONE TAKE ME FROM HEEEERE! X'(
Selasa, 25 Januari 2011
The Day I Die-The Book
"How many books you've read that leads you to think back about your life?"
Heyho People! Dua hari yang lalu saya melakukan perjalanan pulang alias mudik. Karena saya berkendara kereta, maka sudah pasti perjalanan itu akan memakan waktu belasan jam. Saya tak pernah suka menunggu, karena pasti bosan dibuatnya. Jadi saya menyiapkan amunisi untuk mengusir kebosanan. Biasanya, saya memilih untuk membawa buku selain mengisi pulsa ponsel agar bisa onlen, dan menyiapkan baterai ponsel terisi penuh. Untuk buku bacaan, kali ini pilihan saya jatuh pada The Day I Die karya Fannie Flagg.

Sebetulnya buku ini incaran saya sejak lama, tapi baru bisa saya beli pertengahan tahun lalu karena harganya sudah didiskon hingga tinggal sepertiga harga aslinya :)) Tapi begitupun, saya masih juga tak selesai membacanya sampai dua hari lalu itu. Hahahahahaha.
Jadi ceritanya adalah tentang Elner Shimmfisle, wanita tua baik hati yang disukai oleh semua orang. Elner adalah seorang janda dan tinggal sendirian, tapi ia memiliki keponakan bernama Norma yang sangat menyayanginya, begitu pula dengan suami Norma, Macky. Meskipun sudah tua, Elner ini tipe wanita pedesaan tangguh yang ceria dan lugu. Ia adalah sosok yang sangat mencintai kehidupan, dan rasanya tak pernah ada satu masalah pun yang mampu membuatnya bersedih. Suatu hari Elner terjatuh ketika memetik buah ara karena disengat oleh tabuhan (tawon). Ia meninggal seketika. Tak ada orang yang menyangka hal itu dan semua orang yang mengenal Elner dilanda syok dan duka yang luar biasa. Tetapi, sementara semua orang menangisi kepergian Elner, wanita itu sendiri tengah 'mengunjungi' alam baka dengan antusiasme yang luar biasa. Di sana ia bertemu dengan "Tuhan" dan orang-orang dari masa lalunya. Ternyata, kunjungan Elner itu hanya sebentar karena "Tuhan" mengijinkan Elner untuk kembali lagi ke bumi dengan membawa beberapa pesan penting untuk disampaikan. Maka ketika 'bangkit dari kematian', Elner sekali lagi mengejutkan banyak orang.
Cerita dalam buku ini sebenarnya filosofis dan 'berat', tapi karena gaya penceritaannya yang ringan dan mengalir, kita bisa langsung mencerna maksud si penulis tanpa harus mengernyitkan kening. Penerjemahan bahasanya enak dan pilihan katanya juga lugas, sehingga humor-humor yang diberikan dalam cerita ini bisa membbuat saya terbahak-bahak, bahkan ketika saya sudah di dalam kereta. :)) Ada beberapa adegan yang 'menyentil'. Seperti tokoh "Tuhan" yang diceritakan menjelma ke dalam dua sosok tetangga Elner, sepasang suami istri. Diceritakan, mereka berdua saling berbagi tugas dalam menciptakan dunia. Lalu ada juga kisah di mana Elner terlibat dalam kasus yang mengharuskannya bertindak tepat, alih-alih bertindak benar. Banyak isu kemanusiaan yang disisipkan dalam cerita ini, sehingga kita akan diajak merasakan dan berpikir tentang sikap dan keputusan yang selama ini kita ambil. Satu pesan paling kuat yang saya terima adalah, hidup ini hanya perlu kita nikmati saja. Anggaplah kita sedang naik roller coaster. Akan banyak tanjakan dan turunan, tapi yang kita perlukan hanyalah sedikit bersandar dengan santai, karena jalur kita tak akan melenceng ke mana-mana. Jika kita semakin berusaha mengendalikan laju kereta roller coaster kita, itu hanya akan menjadi sia-sia, buang-buang waktu dan tenaga. Jadi kita jalani saja dengan hikmat, selagi kita masih diberi kesempatan untuk hidup.
Saran saya untuk membaca buku ini, lakukan dengan santai. tak perlu mengambil pandangan religius atau terlalu fanatik terhadap suatu segi yang diangkat di sini. Dengan begitu kita akan memahami bahwa hidup ini, yang dituangkan dalam sosok Elner, sebenarnya penuh humor dan indah sekali.
HAPPY READING!:)
Selasa, 18 Januari 2011
Mwathirika : Drama tentang para korban...
"Seberapa jauh kita mengenal sejarah bangsa ini?"
Mungkin pertanyaan itu tepat diajukan pada kita, generasi-generasi muda yang selama ini dibuai kemudahan 'revolusi'. Dua puluh tahun lebih saya hidup, menjadi salah satu dari mereka yang disebut "generasi penerus bangsa", tapi tak pernah saya benar-benar mengenal seluk-beluk sejarah negeri bertajuk Indonesia ini. Betapa banyaknya kegelapan yang melingkupi, tersisa dari sisi-sisi masa lalu, yang entah masih terkubur di mana. Kisah-kisah yang masih tersembunyi dan disimpan di balik dinding-dinding, mengunci rahasia-rahasia pemerintahan, menutupi kebenaran-kebenaran yang tak bisa disebut terang.
Sore tadi, saya dan beberapa teman berkunjung ke Goethe Institute di Jalan Sam Ratulangi Jakarta Pusat. Sebelumnya saya tak dapat informasi apapun mengenai acara yang akan kami hadiri, kecuali bahwa akan ada peluncuran buku dalam rangkaian acara tersebut. Ternyata begitu kami tiba di lokasi, sudah terdapat kerumunan orang yang memenuhi jalan. Kebanyakan dari mereka berseragam: Polisi. Kaget juga saya, karena yang saya tahu, acara di Goethe tersebut cuma berhubungan dengan seni atau sastra (karena teman yang mengajak saya ini anggota komunitas pecinta sastra). Jadi saya bingung, "Kok banyak polisi?"
Setelah ditelusuri, beberapa meter di depan kami ada sekelompok orang-orang yang mengaku salah satu organisasi keagamaan, berdemonstrasi menanggapi acara di Goethe. Saya tanyakan pada teman saya yang lain, yang merupakan sumber pusat informasi semua rencana menghadiri 'acara sastra' ini. Dari situlah saya tahu, ternyata acara itu memang 'sensitif'. Tentang G-30 S/PKI. Pantas saja, demonstrator itu semangat sekali berkoar-koar dan membawa panji-panji yang intinya menolak komunisme di Indonesia. yang saya tak habis pikir, mereka itu, apa benar-benar paham mengenai hal yang mereka teriakkan? Soalnya, acara yang akan kami hadiri sendiri sama sekali bukan acara propaganda atau provokasi mendukung komunisme. Hadeh, hadeeeehh.
Kegiatan itu menyebabkan saya dan teman-teman mengalami kesulitan untuk memasuki gedung Goethe, karena keamanannya menjadi diperketat dan tak sembarang orang diijinkan masuk. Orang-orang pers pun harus bisa menunjukkan kartu identitas mereka agar bisa melewati gerbang yang dijaga satpam, bahkan setelah para pendemo meninggalkan lokasi. Alhasil, kami-kami yang hanya mahasiswa biasa ini terpaksa bengong di trotoar, menanti agar diijinkan masuk. Untungnya, salah satu teman saya cukup eksis di dunia sastra dan jurnalistik, sehingga ada saja orang yang ia kenal di dalam. Masuklah ia terlebih dahulu, baru sekitar satu jam kemudian ia membantu kami juga agar diijinkan masuk.
Begitu tiba di dalam, ternyata ada pameran seni, yang salah satunya menampilkan komik dan karikatur karya Benny-Mice, bertema G-30 S/PKI itu. Ketika jam tangan saya menunjukkan kurang lebih pukul 19.30, pintu auditorium pun dibuka. Kami pun masuk untuk menyaksikan penampilan teater dari Papermoon Puppet Theatre, yang bertajuk "Mwathirika".
Pertama masuk, saya takjub. Di atas panggung ada dua boneka yang didudukkan di atas kursi rendah dari kayu yang dilengkapi dengan roda di kaki-kakinya. Seperti ini:

Nah, setelah ruangan dipadati pengunjung, kisah pun dimulai. Boneka-boneka itu menjadi pemeran dari drama Mwathirika. Bercerita tentang Moyo dan Tupu, kakak beradik yang tinggal bertiga saja dengan ayahnya, Baba. Mereka memiliki tetangga bernama Haki, yang tinggal berdua saja dengan putrinya, Lacuna, seorang gadis kecil yang selalu duduk di atas kursi roda. Baba sendiri adalah sosok pekerja keras yang hanya memiliki satu lengan. Kedua keluarga itu hidup saling berdampingan dengan harmonis. Hingga suatu saat, terjadi suatu konflik di pemerintahan, yang tak dinyana menyeret mereka ke dalam situasi pelik. Hanya karena tanda segitiga berwarna merah di jendela rumah Baba, keluarga kecil itu menjadi tercerai-berai. Cap 'merah' pun diberikan pada Moyo dan Tupu, sedangkan peluit kecil berwarna merah yang ditiup Lacuna pada akhir cerita tanpa niatan kotor sedikitpun membuatnya terseret dalam pusaran kisah yang tak pernah terselesaikan hingga sekarang.
Cerita mengenai keluarga korban G-30 S/PKI ini dibawakan dengan apik dan momen yang pas. Saya sempat bingung mengartikan simbol-simbol yang diberikan, tapi akhirnya memutuskan untuk menikmati saja pertunjukan unik ini. Beberapa kali saya dibuat merinding dan trenyuh, jatuh iba pada penderitaan Tupu dan kejamnya sosok tentara-tentara dalam kisah ini. Sungguh, menjadi merah itu mungkin jauh lebih buruk daripada kematian. Mwathirika sendiri, dalam bahasa Swahili (bahasa yang diangkat sebagai bahasa pengantar dalam drama ini, termasuk nama-nama tokohnya) ternyata artinya "korban". Saya menjadi bertanya-tanya mengenai keadilan di Indonesia. Semoga saja, kebenaran sungguh dapat ditegakkan di negeri yang katanya sudah merdeka ini...
Langgan:
Entri (Atom)